Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Jemaat GPIB Kharisma

 

Pada tahun 1972 terdapat warga Kristen Protestan dan Katolik di kompleks perumahan Kostrad Tanah Kusir. Secara spontan warga Kristen yang terdiri dari bermacam-macam denominasi berhimpun beribadah terutama pada peristiwa-peristiwa Hari Natal, HUT dan saat mengadakan aksi sosial bagi mereka yang memerlukan bantuan. Selanjutnya mereka setuju untuk mengadakan Kebaktian Rumah Tangga secara rutin setiap hari Jumat, pukul 17.00 WIB secara bergiliran dari rumah ke rumah yang dipimpin oleh Alm. LetKol. Pdt. D. E. Liman sebagai kepala rawatan Rohani Protestan Kostrad.

 

Selanjutnya, kompleks Kostrad dan sekitarnya berada dalam pelayanan sektor V bagian V Jemaat GPIB Effatha, sementara warga Katolik dan warga jemaat Protestan lainnya kembali ke persekutuan Gereja masing-masing.

 

Dari perkembangan kelompok jemaat ini, timbul prakarsa membentuk sekolah minggu (KA/KR) dengan mengambil tempat di rumah Bapak L. M. Ruata. Di samping itu, terdapat kegiatan paduan suara yang dipimpin oleh Alm. Bapak J. R. Pusung dan selanjutnya pada bulan September 1973 dinamakan Paduan Suara Kharisma.

 

Setelah diadakan perkunjungan, maka warga Kristen Protestan Kodam V/Jaya bergabung dalam kelompok warga jemaat. Dikarenakan tempat ibadah hari Minggu yaitu gedung Gereja Effatha terlalu jauh, maka warga jemaat meminjam Aula Kompleks Kodam V/Jaya untuk digunakan sebagai tempat kebaktian hari Minggu. Tanggal 19 Agustus 1973 merupakan awal permulaan ibadah jemaat. Pada bulan November 1973, sektor V bagian V GPIB Effatha ditetapkan sebagai sektor khusus di bawah PHMJ GPIB Effatha.

 

Perkembangan jemaat kemudian terarah kepada pelayanan pemuda, 13 Februari 1974 yang diiringi dengan pembentukan persatuan wanita pada tanggal 22 Februari 1974. Sejalan dengan perkembangan warga jemaat, maka Alm. Pdt. D. E. Liman melalui DanDenMa Kodam V/Jaya, Letkol Ony Manuhutu memohon sebidang tanah kepada Pangdam V/Jaya, Mayjen G. H. Mantik guna pembangunan sarana ibadah. Berkat perhatian yang sangat besar dari Pangdam V/Jaya maka berdasarkan surat perintah Pangdam V/Jaya nomor Sprin. 685/X/1974 tertanggal 24 Oktober 1974, diberikanlah sebidang tanah dengan luas 25 x 40 meter di jalan Cendrawasih Raya.

 

Sekalipun wadah pelayanan sudah ada, tetap diperlukan status kegerejaan untuk menjadi jemaat dewasa. Akhirnya pada bulan September 1979, jemaat sektor khusus Tanah Kusir ditingkatkan menjadi bagian VII Jemaat GPIB Effatha dan dibagi dalam 4 Sektor Pelayanan.

 

Sebagai puncak perwujudan jemaat dewasa yang mandiri, bersaksi, dan melayani ditunjang dengan potensi dana dan daya warga jemaat, Jemaat GPIB Kharisma diresmikan pendewasaannya pada tanggal 22 Agustus 1982 oleh Ketua Umum Majelis Sinode GPIB, Pdt. J. A. Sahetapy Engel, M.Th.

 

Berikut ini daftar pendeta yang menjadi Ketua Majelis Jemaat GPIB Kharisma:

(1984-1998) Pdt. Victor Manuel Rumondor

(1991-1993) Pdt. Joost Herman Kaligis

(1993-1994) Pdt. Emil Kaligis

(1994-1997) Pdt. Rudi Syafardan Soewito, M.Th

(1997-2001) Pdt. Paul Hendrik Sapulete, S.Th

(2001-2006) Pdt. Charles James Valentino Timbuleng, S.Th

(2006-2011) Pdt. Ny. Maureen Sussy Rumeser-Thomas, M.Th

(2011-2015) Pdt. Samuel Theofilus Kaihatu, S.Th, M.Th

(2016-kini) Pdt. Antonius Timotius Salawane, S.Th

 

 

sumber:

Buku Membentang Kasih Jemaat Kharisma Kiprah 25 Tahun GPIB Jemaat Kharisma – Penerbit Karya Mulya. Jakarta 2007.

Buku Jemaat GPIB Tahun 1948-2008 Majelis Sinode GPIB – Penerbit Departemen LITBANG GPIB. Jakarta 2008.

PASUKAN MERAH

Template designed by Komisi Inforkom & Litbang